DANGSANAK BARATAAN AMUN ADA ARTIKEL,INFORMASI,SARAN ATAWA KRITIK NANG LAINNYA BISA DI KIRIMAKAN KE EMAIL ULUN dodypoetera6@gmail.com INSYA ALLAH KIRIMAN SAMPIAN ULUN TERBITAKAN DI BLOG INI,LAWAN MUN KAWA GAMBARNYA JUA SANAK LAHTARIMA KASIH DANGSANAK BARATAAN SUDAH BAILANG DI BLOG ULUN INI,MUDAHAN HAJA BAMANFAAT GASAN KITA BARATAAN

Rabu, 16 Januari 2013

Sulaman alabio mulai tergeser

Amuntai - Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tidak hanya dikenal sebagai sentra penghasil ternak terbesar di Kalimantan Selatan (Kalsel), tapi HSU juga dikenal sebagai daerah industri rumahan, salah satunya usaha kerajinan sulaman bordir yang terletak di Desa Teluk Betung Kecamatan Sungai Pandan (Alabio) yang berjarak sekitar 10 Kilometer dari Kota Amuntai.

Perlu diketahui, kerajinan sulaman bordir di desa tersebut mulai rontok satu persatu akibat serangan kain bordir asal Pulau Jawa bahkan dari Cina yang dikenal lebih murah, dan variatif dari segi desain.

Rontoknya sejumlah pengrajin sulaman asal HSU, diamini oleh Kepala Bidang Perindustrian Diskoprindag dan UKM HSU Hj Sri Mainoor pada Mata Banua belum lama tadi.

Kata Mainoor, rontoknya sejumlah pengrajin kain sulaman Alabio, dikarenakan serbuan dari textil yang serupa dari pulau Jawa dan cina yang di kenal kompetitif dari segi harga.

Bahkan imbas dari serbuan tersebut, banyak pengrajin kain sulaman di Desa Teluk Betung (Alabio) harus banting stir menjadi pengusaha kompeksi rumahan dan juga petani.

Menurutnya, kata sebagian pengrajin, lebih menguntungkan menjalankan bisnis kompeksi seperti jaitan baju seragam dan kantor. Namun disayangkan kerajinan khas tersebut dapat punah.

Maka upaya dari pihaknya, memberikan pelatihan kepada para pengrajin, agar tetap bertahan menjadi pengrajin kain sulaman bordir khas Alabio tersebut.

Ketika ditanyakan mengenai kualitas bordir lokal HSU, Noor menjawab, kalau berbicara kualitas, masih unggul bordir asal Alabio, dibandingkan dengan bordir luar, mengingat bordir Alabio di kerjakan dengan manual (tangan) bukan komputer, sehingga dari segi harga juga kita kalah, bordir lokal sangat mahal dibandingkan bordir dari luar.

"Selisinya biasanya sekitar 25 persen dari harga, jika produksi lokal dihargai Rp 100 ribu perlembarnya, produk Jawa atau Cina hanya Rp 75 ribu," lengkapnya.

Sementara itu, Junaidi S.Sos anggota Komisi II DPRD HSU ketika ditanya Mata Banua mengenai hal tersebut mengakui, dari segi harga dan promosi dibandingkan testil dari Jawa dan Cina tentu kita kalah.

" Namun kita berharap bagaiman usaha bordir khas HSU bisa bersaing dengan produk luar." Ujarnya

Junaidi juga mengimbau kepada dinas terkait, bisa memberikan perhatian berupa pelatihan peningkatan, dimana pelatihan terkait peningkatan mutu, kualitas dan menejemen pemasaran kepada para pengrajin.

"Jika pengen tetap pengrajin kita tetap bertahap, mau tidak mau harus ada campur tangan pemerintah daerah," tegasnya.

Melihat gejala ini tutur Junaidi, pihaknya secepatnya akan menindak lanjuti kelapangan, apa yang menjadi masalah krusial, kalau masalah pemasasran, kami akan meminta kepada pemerintah daerah untuk memberikan dampingan.

"Mungkin dalam waktu dekat ini, kami akan mengunjungi para pengrajin beserta SKPD terkait," tandas Junadi yang diamini oleh Ketua Komisi II H Hamdani SH kemarin.dody/mb

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *